Thursday, June 10, 2021

Orangtuaku (Keluarga) - Writing Challenge (5/30)

ilustrasi keluarga


Keluarga biasanya terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Keluargaku bisa dibilang tidak biasa, ada beberapa keluarga yang dijaga oleh single parents. Keluargaku adalah aku dan ibuku. Ayahku tinggal bersama istrinya dan anak-anaknya. Bukan hanya disitu, sebelumnya ibuku sudah pernah menikah, suaminya yang lama kini tinggal dengan keluarga barunya, dan anak-anak dari ibuku dan mantan suaminya hidup berjuang dengan asuhan nenek-nenek mereka.

Ibuku adalah sosok yang sangat hebat di mataku, dengan meninggalkan dua orang anak dia pergi merantau ke pulau seberang. Apa yang bisa dia perbuat? dia hanya bisa berdagang, itupun hanya berjualan jamu. Dia pernah bercerita kalau dia tidak lulus SD karena tidak tahan diejek sebagai anak yatim oleh teman-temannya. Dia lalu memutuskan untuk membantu nenekku berjualan di rumah, juga mencoba usaha dagang. Dia merasa jago berhitung di luar kepala, itu sebabnya dia suka berdagang. Tapi berhitung di luar kepala tidak menjadi jaminan kalau usahanya itu berhasil. Ibuku dan suaminya yang pertama terlilit hutang, dan begitulah akhirnya dia meninggalkan anak-anaknya.

Dengan semangat memiliki kehidupan yang lebih baik, ibuku tertipu dengan seorang lelaki tidak bertanggung jawab. Dari yang tadinya dia hanya mengurus dirinya sendiri di perantauan, kemudian dia juga harus mengurus seorang anak yang tidak lain adalah aku. Ketika aku dewasa ibuku mengatakan bahwa dia sebenarnya menikah sirih dengan ayahku, dan hubungan mereka tidak direstui oleh orang tua ayahku karena ibuku seorang janda. Tapi aku tidak percaya dengan cerita ibuku. Kebenarannya adalah ayahku bukan orang yang bertanggung jawab. 'Laki-laki yang tidak bertanggung jawab tidak memiliki cinta, hanya keinginan' dan aku merasa, dia tidak mencintai kami.

Kemudian ibu membesarkan aku seorang diri, dia berperan sebagai ibu dan kepala rumah tangga. Saat dia pergi jualan, aku dititipkan dengan wak Butet, yang kemudian, anaknya kak Omma ikut dengan kami hingga dia lulu SMA. Aku belajar salat dari ibu, tapi aku belajar melakukan pekerjaan rumah dari kak Omma. Dia adalah ibu tiriku. Darinya aku belajar menyapu rumah, mencuci piring, hingga mencuci dan menyetrika. Sebenarnya aku kira dengan ikutnya kak Omma dengan kami membawa keamanan tersendiri buat kami sebagai pendatang. Kak Omma punya beberapa abang yang juga menjadi abangku, dan walaupun kak Omma kadang suka kasar dan galak, tapi wak Butet sudah menganggapku sebagai anaknya juga. Mereka adalah keluargaku yang lain.

Untuk ayahku, aku tidak mengetahui banyak tentang dia. Dia kadang suka berkunjung ke rumah kami. Dengan istri sahnya dia memiliki 3 anak laki-laki, aku kadang suka diajak nonton balap cross dengan mereka. Dengan anaknya itu, aku paling dekat dengan si Usnul karena kami hanya beda 1 tahun. Tapi aku juga kadang memiliki waktu berdua hanya dengan ayahku. Kami suka datang ke Penyewaan buku Adu nasib, dahulu kadang bisa setiap minggu, ketika aku kepingin foto di studio foto, ayah mau mengantarkan, ketiaka SMP dia yang mengajari aku naik motor.  Ayahku juga mau menjemputku pulang les atau pulang sekolah. Sebelum pulang kami mampir beli mie parpar kadang es campur. Aku suka saat-saat dia menjempuku, karena teman-teman ku akan berfikir kalau aku punya ayah, kehidupan keluargaku normal.

Ibuku tidak mengajarkan ku untuk membenci ayahku, dia tidak memutus hubungan kami, karena bagi dia, tidak ada yang namanya bekas anak. Sebenarnya aku ingin sekali memiliki hari keluarga, hari dimana kami menghabiskan waktu hanya bertiga. Suatu hari, keinginan ku ini pun terkabul, aku ingat hari itu adalah libur tahun baru, kami bertiga pergi ke Terjun Baru. Aku berenang dengan ayah di kolam air terjun, ternyata gaya berenang kami sama. Dan kenang-kenangan yang kudapat dari peristiwa itu adalah kuku kakiku yang tidak rapi. Itu karena saat perjalanan pulang, kami berbelok hendak melihat suatu tempat, dan ternyata jalannya jelek dan berbatu tajam. Karena aku duduk di tengah motor yang mana tidak mendapat tempat meletakkan kaki yang nyaman, akhirnya kakiku menabrak batu.

Hal seperti itu jarang kami lakukan, hal itu wajar saja. Sebenarnya ada banyak mata yang melihat kami, tapi mereka memaklumi karena dia adalah ayahku, tapi tidak jika itu dengan ibuku, aku tidak tahu mereka membicarakan apa saja. Yang aku tau hanya tatapan mata mereka yang tidak biasa. Puncaknya adalah ketika ibu si Usnul meninggal dan ayahku menikah lagi. Istrinya yang kedua ini sangat tidak suka denganku, dia mengekang ayahku, dan ayahku tidak pernah mengunjungi kami lagi, hanya sesekali ketika aku menunggu untuk diantar ke sekolah, atau ketika aku berkunjung ke rumah mereka untuk meminta bantuan membayar uang buku. Sebenarnya hal ini ada baiknya, ini akan menjuhkan kami dari fitnah.

Kini Ibuku sudah pulang kembali ke kampung halamannya, ayahku tetap bersama keluarganya di pulau seberang. Waktu aku kecil aku pernah sangat berharap agar kedua orang tuaku bersatu, aku mendoakan itu setiap hari. Doa itu hampir saja terwujud ketika istri ayahku yang pertama meninggal, sebelum ayahku menikah lagi. Nenekku mendatangi rumah kami, saat itu sangat heboh. Aku tidak mau keluar kamar dan pura-pura sudah tidur saja. Ibuku menolak tawaran itu. Setelah kufikir sekarang, kurasa itu adalah pilihan yang tepat. Kurasa aku tidak akan tahan jika punya adik tiri. Aku lebih suka sendiri.

Walau aku tumbuh tanpa sosok ayah, aku tetap bisa merasakan sosoknya sesekali. Walau hidup kami sepertinya menyedihkan, tapi aku merasa adalah seseorang yang beruntung. Ibu memenuhi kebutuhanku dengan cukup, aku tetap bisa merasakan apa yang ku inginkan.  Sekolah di tempat terbaik, mendapat teman-teman yang baik, mendapat fasilitas apa yang aku mau, tentu aku tidak selalu mendapat apa yang aku inginkan, tapi ibu akan memenuhinya karena dia ingin aku menjadi anak yang normal.

Jujur kadang ada gengsi, menerima kenyataan punya ibu seorang tukang jamu saat masa aku sekolah. Sedikit agak memalukan, rumah kami juga tidak bagus. Aku sedikit kurang nyaman jika teman sekolahku harus berkunjung ke rumah. Tapi aku tidak pernah menipu mereka, biarkan saja mereka mau berfikir apa aku tidak peduli. Tapi pada kenyataannya, teman-teman yang datang ke rumahku adalah teman baikku. Aku bersyukur tidak harus menyembunyikan dari mereka dimana rumahku sebenarnya, dan yang lebih aku syukuri, aku tidak harus menyembunyikan dari mereka siapa ibuku sebenarnya. Dia adalah keluargaku satu-satunya sebelum aku menikah.

foto kelulusanku 5 tahun yang lau.
Ibuku sudah tampak tua karena tubuhnya menyusut pasca oprasi. 
mudah-mudahan oprasi yang dulu dijalaninya adalah penggugur dosa-dosanya. amiin.


Tuesday, November 24, 2020

Rantauprapat (Rumah) - Writing Challange (4/30)

Kalau ditanya sekarang tempat yang aku ingin kunjungi kemana, aku akan menjawab Rantauprapat. Tapi kalau 10 tahun yang lalu aku ditanya inginnya kemana, aku malah menjawab Jakarta. Yah begitulah, yang jauh terasa lebih menyenangkan.

Aku lahir dan tumbuh besar di Rantauprapat, jadi wajar jika aku merindukan kampung halamanku, terlebih aku sudah tidak tinggal di sana lagi semenjak lulus SMA. Jika orang bertanya aku orang mana, aku akan menjawab Rantauprapat, karena apa yang ada pada diriku saat ini, itu adalah hasil dari lingkungan pergaulan ku selama tinggal di Rantauprapat. Bahkan bahasa dan logat bicaraku pun masih khas Ranto. Walau terkadang aku mengaku sebagai orang Wonogiri, tapi itu pada akhirnya akan membingungkan orang yang bertanya karena gaya bahasaku bukan jawa sama sekali.

Jika aku ke Rantauprapat, sebenarnya tidak ada tempat yang begitu menarik untuk dikunjungi. Hanya saja orang-orang yang tinggal di sana dan kenangan yang aku miliki mendorongku ingin ke sana.

Pertama, aku akan ke Gp. Panah. Dari aku sudah bisa mengingat aku sudah tinggal di sana. Mulai dari umurku yang paling kecil, sekitar 3-4 tahun, aku tinggal di sebelah rumah si kembar. Baiklah akan aku ceritakan rumah mana saja yang aku tempati selama di Gg Panah. Mulai dari rumah awal aku bisa mengingat.


rumahku yang pertama, sudah tidak ada, sudah menjadi dua rumah. Rumah yang berpagar dan berkeramik hitam itu rumah si kembar, dari dulu bentuknya seperti itu. Kotak yang di tanah itu dulunya lapangan bulu tangkis, arena bermain kami tiap sore. Kini tampaknya jadi lapak jualan bensin orang.


Rumah ini kecil, hanya punya satu kamar, ruang tengah, dapur dan sumur di luar atau kamar mandi di luar. Sebenarnya ini adalah satu rumah yang dibagi dua. Di bagian rumah yang satu lagi, yang pintunya menghadap samping rumah di Kembar, diisi sama si Feri, cowok seusiaku yang punya adik satu, ibunya juga orang jawa, ayahnya orang Ranto. Dan dari apa yang aku dengar, ayahnya sangat benci ketika aku menangis dan tak bisa diam. Ayah si Feri, pernah menendangku karena suara tangisanku. Pintu rumah kami sendiri menghadap pintu dapur ibu xxx yang seingatku sangat baik. Ketika dia akan pindah, dia mengajakku jalan-jalan dengan mobilnya dan membelikanku jajanan di supermarket. Hal yang mewah saat itu. 

Ketika usiaku 3-4 tahun itu, aku seringnya bermain sendiri di depan rumah kami, aku bermain mobil-mobilan di antara bunga-bunga Mamak. Lalu aku masuk sekolah TK usia 4 tahun mengikuti si kembar. Usia 4 tahun sebenarnya usia yang terlalu muda untuk masuk sekolah, tapi agar aku ada kegiatan dan punya teman, Mamak menyekolahkanku lebih awal.

Kembali ke rumah, karena sumur kami di luar, kata orang-orang kadang suka banyak yang bersembunyi di balik semak-semak untuk mengintip kami mandi. Untung saat itu aku masih kecil. Tapi kasihan mamak :( 

Kemudian aku ingat saat ada beberapa pohon dan pohon kelapa yang di belakang sumur ditebang. Kami yang masih anak-anak merasa senang, karena merasa mendapat arena bermain yang baru. Kami main ulang tahun-ulang tahunan: berdandan untuk pergi ke pesta dan merayakan ulang tahun masing-masing teman bergantian, terkadang kami juga suka main rumah-rumahan, yaitu permainan membangun rumah dari daun-daun kelapa, menganggap itu seperti rumah kami sendiri. Lama kelamaan, arena bermain kami itu lenyap. Ditutup dengan tembok.

Ada kabar bahwa tanah itu telah dibeli oleh orang cina, untuk membatasi tanah miliknya, mereka membangun tembok.

main rumah-rumahan, gambar dapet dari fb

Tahun 1999 memasuki usiaku yang ke-6, saat sekolah SD ku telah punya bangunan baru, dan kami pindah dari bangunan lama ke bangunan baru yang telah bertingkat dua. Aku juga mengalami pindah rumah. Masih di Gg panah, kali ini letaknya di pinggir jalan raya. Sebelum di bangun tembok, sebelah rumah kami adalah semacam rawa. Ada tanaman genjer dan kangkung di situ. Kami sendiri sempat memiliki kebun tomat, cabai dsb sampai tanah itu dibeli dan dibangun tembok, kami hanya punya bunga bunga di dalam pot yang ketika malam suka dicuri oleh beberapa banci.

Rumah kami ini, sangat dekat dengan jalan raya, tapi letaknya sedikit berada di bawah, bukan hanya rumah kami, rata-rata rumah di pinggir jalan ini letaknya berada di bawah, berbeda dengan rumah yang di seberang jalan yang letaknya bisa sejajar dengan jalan raya. Kecelakaan pernah menimpa rumah wak Dammak. Ketika itu ada truk yang membawa sawit terguling, dan sawit-sawit itu menghancurkan bagian depan rumah wak Dammak. Seketika wak Dammak langsung merenovasi rumahnya menjadi dinding tembok dan bertingkat.

Dibanding rumah kami, rumah Wak Dammak ini memang sangat dekat dengan jalan Raya. Setidaknya kami punya jarak satu meter dengan jalan raya sebagai halaman. Rata-rata rumah di sana punya turunan yang cukup tajam sebagai jalan naik dan turun ke jalan. Kami sendiri punya tangga yang berada tepat di depan pintu.

Ada satu insiden yang sangat aku ingat mengenai halaman depan. Saat itu mamak lagi santai sore sambil melihat bunga-bunganya. Tiba-tiba ada hewan yang menggigit kakinya. Sangat kacauu aku tidak ingat bagaimana mamak bisa sembuh, yang aku ingat mamak pernah berobat di rumah wak Anik Soleh dengan orang pintar. Kata mereka hewan itu adalah kiriman orang. Entahlah, aku sendiri sebenarnya kurang percaya dengan hal mistis dan saat itu juga aku tidak diperbolehkan untuk melihat proses pengobatan. Sampai sekarang, bekas luka itu masih ada, dan masih suka menimbulkan gatal. Kaki mamak jadi jelek karenanya. Padahal dia mencari nafkah dengan itu.

Rumah kami yang di Pinggir jalan SM. Raja ini, suka banjir kalau hujan turun deras dan berlangsung lama. Entah karena ada tembok atau memang dari dulunya begitu. Bagian pojok kanan depan tembok, yang dekat dengan jalan raya, dilobang, karena ada aliran air di situ hingga ke sebrang jalan. Kadang aku suka masuk ke balik tembok itu, baik melalui lobang, atau memanjat melalui pohon ambacang yang di dekat sumur. Sekedar untuk melihat-lihat aneka tumbuhan apa yang tumbuh di balik tembok. Kadang ada juga orang yang mengambil kangkung dan genjer melalui lobang. Di halaman samping rumah kami ada jemuran, lalu di belakang di dekat sumur, ada pohon ambacang dan jambu air.

Jambu air ini buahnya bewarna putih dan gemuk, sayang semut hitam banyak sekali di pohon jambu ini. Di bawah pohon jambu, aku suka santai sambil tidur-tiduran di atas ayunan ketika siang pulang sekolah. Selain itu, aku juga suka main masak-masakan dengan teman-temanku. Tapi kalau sama kak Omma, main masak-masakannya adalah masak sungguhan. Lalu kami makan siang bersama di bawah pohon jambu air itu. Sedikit jorok sih, karena pohon jambu berada di dekat sumur dan juga wc kami. 

Mengingat pohon jambu ini, aku jadi ingat hal konyol yang aku lakukan dulu: 1. Aku pernah mengubur uang di bawah pohon dan berharap uangnya menjadi berlipat ganda. hhh 2. Bercocok tanam di dekat sumur yang tanahnya adalah tanah liat yang sangat keras. Setidaknya aku tahu, ternyata minat berkebunku sudah ada dari aku kecil.

Biar aku jelaskan seperti apa rumah yang aku tempati dulu. Rumah kami ini, masih berdinding kayu, lantai semen dan beratap seng seperti rumah kami sebelumnya. Rumah ini rumah tua, banyak bocor disana sini, tapi bu Pita si pemilik rumah, terkesan membiarkannya. Ukurannya lebih besar dari rumah sebelumnya. Ada 3 kamar, ruang depan yang luas (teras) ruang tengah, gudang, dapur, dan lagi-lagi.. kamar mandi masih di luar. Kemudian mamak membangun kamar mandi kecil di dapur, bukan bangunan kamar utuh, hanya sedikit tembok untuk membatasi agar air tidak meleber kemana-mana. Kami bisa mencuci piring dan mandi di situ, tapi kalau untuk BAB, kami harus melakukannya di luar. 

Kami memasang sanyo untuk menarik air, tapi sialnya kalau musim kemarau tiba, air sumur suka kering. Akibatnya, aku menjadi kuli air. Mengangkat air dari sumur rumah kami yang lama. Jaraknya sekiar 200m dan itu kulakukan hampir 3-5 kali balikan. sungguh kuat aku saat itu.

Karena rumah kami ini cukup besar, yang tinggal bukan hanya kami saja. Ada mendiang lek Sutiyem, tetangga Mamak di Jawa, dulu kami sering berantam dan kejar kejaran. Dia tidur di kamar depan. Kami di kamar tengah, dan sepertinya kamar ketiga masih menjadi ruang makan. Sekitar tahun 2005 anaknya mendiang lek Sutiyem bergabung bersama kami serta keluarga kecilnya. Mereka menempati ruang gudang yang berada di depan kamar ketiga yang telah menjadi kamarku ketika aku kelas 4 SD. Feri yang dulu sebelah rumah kami juga pernah tinggal serumah dengan kami, mereka tidur di kamar bekas lek sutiyem. Tapi kali ini wak Gonok ayahnya tidak ikut, dia sudah bercerai dengan mbk Sri. Dan yang sering di rumah hanya Feri dan si Ulan adiknya.

Kamarku adalah tempat ternyaman di rumah. Mamak kadang suka membeli buah seperti jeruk dan itu aku letakkan di tempat buah yang aku letakkan di atas meja lipat kecil di kamar ku. Aku menganggap buah itu untuk tamu. Kadang banyak tamu yang main ke kamar ku, seperti kak Reni temennya kak Omma, atau si Kembar yang suka melihat diri mereka di cermin rotan kamar ku, mereka juga suka bertengkar. Suatu hari mereka memperebutkan meja lipat kecil ku. dan yang menjadi korban adalah aku yang akhirnya ketiban meja kecil itu.

Aku punya rahasia dengan kamar tidurku ini. Salah satu jeruji jendela ada yang terlalu lebar, akibatnya tubuhku bisa keluar masuk. Kalau pintu terkunci dan belum ada orang, aku suka masuk melalui jendela, mengambil kunciku, membuka pintu belakang, lalu masuk lewat depan seolah-olah aku membawa kunci. 


rumahku yang ke-2
dari kami pindah ternyata masih hancur belum dibangun apapun. depan rumah bu xxx jadi warung tambal ban orang. tanaman kangkung dan genjer dan kangkung di balik tembok tampaknya sudah tidak ada, sudah kering kerontan.

Enam tahun di rumah pinggir Jln. SM. Raja, persis sesudah turunan jalan dari kantor golkar, itulah tempat tinggalku semasa SD, yang tinggal bersama kami hanya sementara, seringnya rumah itu hanya diisi oleh kami saja: Aku, Mamak, Kak Omma. Di rumah ini aku belajar menyapu sejak kelas 2 SD sama kak Omma. Harus dua kali bolak balik biar bersih ! belajar menyapu halaman, belajar mencuci piring, yang seringnya aku malah memecahkan piring, membuat kak Omma murka dan menghajarku dengan sapu hingga sapu itu patah. Kadang dia juga suka mencubit ku dan mengancam jangan sampai aku mengadu kepada Mamak.

Seringnya aku ingin ikut jualan saja sama mamak, aku enggak mau ditinggal di rumah. Kak Omma lah yang memisahkan aku dan Mamak. Kalau sudah begitu, aku suka lari ke rumah asli kak Omma, mengadu ke Wak Butet, mamak kak Omma. Dan dia sudah pasti membelaku dan aku merasa aman di sana daripada di rumahku.

Kak Omma memang seperti ibu tiri, tapi dia juga seorang kakak. Dia suka merayakan ulang tahun ku, walau kadang itu adalah hasil curiannya dari mamakku. Sebenarnya adalah wajar jika kami membagi pekerjaan rumah. Pekerjaan dia lebih berat. Dia harus mencuci dan menyetrika pakaian kami yang seringnya dia mengomel dan menuduh kami artis karena suka gonta ganti pakaian.

Tahun 2006, Kak Omma telah lulus SMA, sepertinya dia tidak akan tinggal bersama kami lagi. Aku juga sudah merasa bisa menyetrika karena aku sudah kelas 1 SMP. Ketika dia pergi, aku menyetrika diam-diam tapi ketahuan juga sama kak Omma karena ketika dia pulang, pintu terkunci, dan ketika dia mengintip dari lubang pintu, dia melihat aku sedang membereskan setrikaan. Melihat aku sudah bisa mengerjakan pekerjaan rumah, kak Omma akhirnya sudah tidak tinggal lagi bersama kami.

Dulu, aku sangat malu dengan rumahku ini. Aku tidak mau kalau teman sekolahku datang ke rumah. Hanya karena dia terbuat dari papan kayu, dan lantai semennya bergelombang alias tidak rata. tidak hanya itu, papannya juga berwarna kuning menandakan rumah kami sering kebocoran. Sampai suatu hari, atap teras kami telah terbuka. Saat itu bagiku tidak masalah, membuat rumah kami jadi terlihat lebih terang.

Sebelumnya teras itu memiliki jaring kawat di sebelah kiri depan, jadi kita bisa langsung melihat ke luar. Di sebelah kanan sendiri sepenuhnya tertutup dengan kayu. Dulu, sekitar aku kelas 2SD mamak sempat membuka warung di bagian teras yang ini. Tapi karena yang menjaga warungnya adalah aku dan kak omma, tentu saja usaha itu tidak berjalan. Satu lagi yang ku ingat dari warung kami adalah ketika aku menginjak kaca entah dimana, kaki ku langsung dimasukkan ke dlam minyak tanah bekas jualan. Kini bekas luka kaca itu masih meninggalkan jejak di kaki ku.

Setelah teras, lalu dapur kami yang kena gilirannya. Yang membongkar mengaku tidak sengaja. Saat itu memang mereka tengah membongkar rumah di sebelah kiri kami. Rumah bu xxx yang setelah mereka pindah, di isi oleh partai bulan bintang. Dulu kak Omma sering memainkan mesin ketik di sini. Lalu rumah itu kosong dan di bongkar. Saat pembongkaran rumah ini lah dapur kami juga ikut terbongkar. Tidak banyak sih, hanya bagian kiri yang berdekatan dengan bangunan partai, tapi itu akan sangat merepotkan jika hujan turun.

Mereka mengatakan, bahwa kami telah di usir secara tidak langsung. Rumah kami dan bangunan partai yang kosong telah dijual bu Pita ke orang Cina. Entah siapa yang mengusulkan, lalu kami tiba-tiba saja pindah ke gudang milik wak Dammak. Aku sangat haru dengan proses kepindahan kami kali ini. Karena banyak sekali yang membantu. Aku tidak ingat siapa saja, yang pasti mereka tidak sampai hati kalau kami keluar dari Gg Panah. Aku yakin mereka adalah orang-orangnya Wak Butet.


Lahan rumah wak Dammak dan si Jannah

ini sebenarnya jalan yang ada di belakang rumah si Jannah, rumah semasa SMP ku sudah menjadi bagian belakang ruko itu. Rumah di sebelah Gg adalah rumah wak Mawar, dimana jendela dapur kami mengarah ke pintu belakang rumah wak Mawar ini.


Jika aku malu dengan rumahku yang sebelumnya, seharusnya aku lebih malu lagi dengan rumahku yang ketiga ini. Tapi, entah kenapa aku merasa nyaman di sini. Setidaknya kami tidak kebanjiran. Oke biar aku jelaskan.

Seperti yang di ketahui, rumah ini adalah bekas gudang wak Dammak, dan wak Dammak sendiri bikin gudang baru di belakang gudang lama, atau rumah kami. Dinding rumah ini masih berbahan papan, dan bagian luarnya ditempeli seng. Mungkin tujuannya agar air hujan tidak langsung membasahi papan, tapi itu sungguh tidak aesthetic dan juga berisik ketika orang lewat sambil iseng mengetuk-ngetuknya. Kelebihan rumah ini adalah, kami tidak sendiri di pojok jalan. Kini kami berada di tengah. 

Arah jam 10 rumah kami ada rumah si Jannah, dulu rumah wak Butet menempel di dapur rumah si Jannah teman sepermainanku, tapi kemudian wak Butet punya rumah baru, dan rumah itu ditempati sama kak Bujing, kakak kak Omma. Arah jam 11 rumah wak Dammak, arah jam 12 rumah wak Ani Soleh, tempat kami numpang telepon, juga numpang menonton dulu, lalu di arah jam 3 ada rumah si Balqis, arah jam 9 ada rumah wak Ros yang suaminya ketua RT entah berapa puluh tahun, lalu jam 5 ada rumah si Yani, teman sepermainaku juga, dan terakhir, arah jam 6 ada sumur. Yah.. lagi lagi sumur berada di luar, dan kami harus bikin kamar mandi lagi.

Sebenarnya kami bukan berada di tengah, tapi di belakang rumah masing-masing yang ku sebutkan tadi. Tapi bukankah pemilik rumah lebih sering berada di belakang. :) Lanjut, setelah bagian luar rumah yang penuh seng, bagian dalam rumah memiliki 4 ruangan dan 3 jendela. 

Begitu masuk, kita langsung berada di ruang tengah, tempat ruang tamu, tempat kami menonton dan makan. ruangan kedua adalah kamar. Harusnya ada 2 kamar, tapi kami membuka papannya agar luas. Wak Dammak meninggalkan tempat tidur besi yang bisa kami pakai. Aku hanya sesekali saja tidur di tempat tidur besi itu. 2 jendela ada di kamar dan kamar kami adalah tempat paling adem. Tapi secara keseluruhan aku merasa rumah ini lebih sejuk daripada rumah sebelumnya. Kemudian dapur yang ketika jendelanya di buka langsung terlihat pintu belakang rumah wak mawar, dan kamar mandi.

Untuk bermain, aku sudah tidak perlu jauh-jauh, mereka kini ada dekat rumahku. Mereka suka bermain di halaman rumah kami, kadang maju sedikit di samping rumah si Jannah. Dulu saat malam, aku suka duduk-duduk di depan rumah sambil memandang ke langit. Ulang tahun ku yang ke-17 dilakukan di rumah ini. Mamak memasakkan makanan untuk teman-teman ku dan mereka memberikan aku hadiah. Aku tidak menyangka, padahal itu hanya pesta makan-makan saja.

Lalu, rumah wak Ani Soleh, rumah si Balqis dan rumah yang kami tempati dibeli orang Cina. Dari yang aku tahu, Wak Ani, mamak si Nia menjual tanah dan rumah mereka dengan salah satu bangunan ruko yang akan dibangun. Jadi saat pembangunan ruko itu, mereka pindah sementara. Balqis, membangun rumah lagi dekat sumur kami yang di belakang, dan kami sendiri, harus pindah lagi ke rumah Bu Inong. Sebenarnya itu bukan rumah Bu Inong, tapi bos tempat bu Inong kerja memperbolehkannya tinggal di sana.


Rumah Bu Inong sudah jadi ruko, dulu di lahan kosong ini ada pohon jambu biji yang suka aku panjat. Terlihat rumah wak Masreni masih tersisa. Dulu rumah Bu Inong juga seperti ini, hanya saja halamannya tidak begitu luas.

sepertinya warung ponsel Bu Inong ada di dekat pohon ini

Kami kembali lagi tinggal di pinggir jalan raya, tapi kali ini posisinya agak jauh dari turunan depan rumah kami yang dulu dan lagi rumah ini bukan terletak di pojokan. Jika sebelum-sebelumnya aku malu dengan rumah yang aku tempati, untuk kali ini aku boleh berbesar hati. Rumahku kali ini berdinding tembok, bukan papan lagi. Atapnya seng, tapi memakai asbes di langit-langit. Lantainya sudah bukan semen, tapi berlantai tegel hijau dengan gambar bunga. khas rumah tahun 90 an. Juga punya jendela kaca siang malam karena akan terlihat gelap jika dilihat dari tempat yang terang dan sebaliknya.

Jika kamu dari jalan raya, kamu akan melewati turunan yang tajam dulu sebelum sampai di teras. Seperti yang sudah aku jelaskan di atas. Begitu memasuki pintu rumah, kamu akan langsung melihat lemari besar yang berada di ruang tamu. Untuk ke ruang tengah, telah ada pintu yang tidak memiliki tutup, di sebelah ruang tamu adalah kamar utama, tempat tidur bu Inong dan keluarga. Ruang tengah adalah tempat kami menonton, sebagian ruang tengah, terdapat 2 kamar tidur, salah satunya adalah kamar tidur aku dan mamak. 

Selain pintu tak bertutup di depan, pintu tak bertutup bisa dijumpai lagi saat akan ke ruang makan. Ruangan ini sedikit kecil karena hanya di isi meja makan dan kulkas. Lalu ada pintu kayu menuju dapur dan kamar mandi, keluar pintu belakang, ada sedikit lahan untuk jemuran. Kalau sedang menjemur, harus hati-hati karena letak jemuran sejajar dengan dapur yang berada di atas. Untuk ke halaman belakang kita harus menuruni tangga. di halaman belakang ini ada jemuran lagi diantara pohon pisang. dan paling belakang rumah adalah tempat pembakaran sampah. Jika melewati pembakaran sampah, kamu akan menemui kolam kosong yang tidak di isi apapun. Memang walau dari jalan raya kita sudah turun, tapi semakin ke belakang kita akan semakin menurun lagi. 

Untuk pertama kalinya aku merasakan tinggal dengan orang. Sebelumnya memang aku sudah terbiasa tinggal dalam satu rumah yang dihuni oleh beberapa keluarga, tapi saat itu posisinya kami lah yang menumpang di satu kamar. Sebenarnya bukan menumpang juga, kami membayar untuk tinggal di situ dan sebenarnya tidak buruk tinggal dengan keluarga lain, banyak hal yang aku pelajari, membuatku dewasa, dan membuatku merasa beruntung di rumah ini.

Bu Inong punya 2 anak, Aldi dan Alya. masing-masing berumur 11 dan 6 tahun saat aku tinggal disana. Otomatis aku menjadi anak yang paling besar di rumah itu. Bu Inong sendiri memanggilku kakak menandakan dia ingin aku menjadi kakak yang baik untuk anak-anaknya. Aku yang berperan menjadi anak bungsu, kemudain tunggal, kini harus menjadi sulung. Walau dari pihak Bapak aku adalah si sulung, tapi kami tidak pernah tinggal bersama.

Kami hidup akur di rumah itu, bu Inong sendiri menganggap kami adalah saudaranya. terkadang aku mengantar Aldy latihan bola ke ujung bandar, atau main ke rumah bibinya. Aku seolah memiliki motor lagi di rumah ini, walau ku akui, untuk memasukkan dan mengeluarkan motor harus memiliki keberanian yang besar karena curamnya jalan menuju jalan untuk masuk ke rumah.

Karena sudah seperti kemanakan dekat, bahkan keluarga bu Inong sendiri pun menjadi seperti keluarga kami juga. Mulai dari keluarga kakak bu Inong sampai keluarga adiknya. Aku pernah diajak ke Medan oleh adik bu Inong, sampai usiaku ke-18 tahun tinggal di Sumatera Utara, baru kali itulah aku pergi ke Medan. Kami bahkan menginap di Hotel dan bermain ke HillPark Sibolangit. Hal yang tidak mungkin bisa aku kunjungi dan beruntungnya lagi saat itu sedang sepi pengunjung jadi bisa bermain sepuasnya. Saat perpisahan SMA teman-temanku pergi ke Brastagi, tapi aku tidak bisa ikut karena tidak boleh menginap sama Mamak atau lebih tepatnya karena tidak punya uang.

Lain waktu aku diajak ke Pantai Cermin sama kemenakan bu Inong yang lain. Itu adalah kali pertama hidupku aku bermain ke pantai, dan beruntungnya lagi saat kami tiba adalah saat pantai surut. Hewan-hewan laut kehilangan airnya, pantai menjadi sangat luas. Saat itu kali pertama hidupku aku melihat ubur-ubur ahha. Selain itu dia bahkan memberikanku beberapa bajunya yang bagus-bagus. Sayang ketika baju itu ku tinggal di Jawa dan aku sedang berada di Jakarta, Baju-baju itu diberikan Biyung untuk saudaraku yang lain.

Selain saudaranya, Bu Inong sendiri memberiku pengalaman pertama yang lain lagi. Suatu waktu dia mengajakku ke Suzuya (mall Rantauprapat) dan makan di KFC bersama dengan 2 anaknya. Walau aku pernah jajan di KFC juga dengan teman sekolahku. Tapi makan di tempat bersama seperti keluarga adalah hal yang berbeda. Hari ini aku menyesal, kenapa saat aku menikmati kesenangan itu aku tidak mengingat Mamakku. Aku malah berfikir kenapa aku tidak bisa melakukan kesenangan ini dengan teman-teman ku. Huh dassar aku :(

Tentu bukan hanya materi, nasehat-nasehat dan pandangan hidup juga aku dapatkan di rumah ini. Bercengkrama dan melakukan obrolan, kadang aku dapatkan.

Umurku telah 18 tahun lebih, banyak kebahagiaan yang aku rasakan di rumah bu Inong ini. Mulai dari mendapat pacar pertama, mendapat kado spesial pertama, bahkan pekerjaan pertama hehe. Jadi bu Inong punya counter pulsa di depan rumah. Karena aku telah lulus SMA dan tengah menganggur, aku jadi mendapat pekerjaan tukang isi pulsa.

Saat akhirnya izajah SMA ku telah keluar, tidak ada lagi yang harus kami tunggu. Akhirnya tahun 2012 kami meninggalkan Rantauprapat untuk waktu yang lama. Saat itu banyak sekali yang mengunjungi kami, para tetangga di Gg panah termasuk juga keluarga dari wak Butet datang ke rumah bu Inong. Mereka mengucapkan salam perpisahan untuk yang terakhir kali. Mereka banyak memberikan kenang-kenangan berupa barang ataupun materi. Suasana sangat haru. Aku masih mengingat kebaikan-kebaikan mereka sampai sekarang. Kami juga berfoto, tapi hasilnya jelek karena hidung kami semua merah akibat menangis.

Kini rumah Bu Inong kosong. Karena saat sebelum kami pulang ke Jawa, Bu Inong tengah membangun rumahnya yang sesungguhnya di simpang mangga. Sebenarnya rumah wak Butet ada di belakang rumah Bu Inong, tapi itu sekarang juga sudah kosong. Mereka sudah menjual tanah mereka dan pindah ke dekat kuburan cina. Wak Ani soleh juga sudah tidak di Gg Panah lagi. Mereka menjual ruko mereka dan pindah ke Aek Tapa. Begitu juga rumah si Jannah. Baru-baru ini mereka menjual rumahnya dan membangun rumah lagi di simpang mangga. Kepindahan-kepindahan ini membuatku merasa releated dengan drakor Replay 1988

Banyak yang sudah keluar dari Gg Panah, banyak juga yang masih di sana. Jadi, jika aku ke Rantauprapat lagi, setelah ke Gg Panah aku akan bermain ke rumah-rumah orang yang dulunya tinggal di Gg Panah dulu. Lalu ke sekolah-sekolahku, dan tempat-tempat yang sering aku kunjungi dulu. oh rindunya...

foto tahun 2003, saat aku kelas 3SD dan kak omma lulus SMP. Dalam rangka menghabiskan film yang ada di sustel temen kak omma. Ada juga foto aku pura-pura ulang tahun T.T

Wednesday, November 11, 2020

Cerita Anne Frank


cover catatan harian Anne Frank terbitan Jalasutra

Aku baru saja mendengar cerita dari Anne Frank, tapi aku tidak mendengarnya secara langsung. Aku diam-diam membaca buku hariannya. Aku begitu penasaran dengan buku harian orang yang tergeletak begitu saja. Kau tahu kan, buku harian itu biasanya bersifat sangat rahasia. Aku juga menyimpan beberapa rahasiaku di sebuah catatan agar hatiku menjadi lega. Tapi karena catatan Anne ini bukan milikku, aku diharuskan menceritakan lagi mengenai Anne Frank padamu.

Anne Frank ternyata adalah seorang Yahudi. Mereka pindah tahun 1933 ke Holland mengikuti ayahnya bekerja sebagai direktur di Dutch Opekta Company yang memproduksi bahan-bahan pembuat selai. Jika mereka berada di Jerman, mereka semua sudah mati di bawah kekuasaan Hilter. Di buku harian ini Anne menceritakan bagaimana mereka bersembunyi dan bertahan hidup setidaknya sampai perang usai. Anne menulis buku hariannya selama setahun setengah (1942-1944)

Seperti pada umumnya, seseorang akan memulai menulis buku hariannya mengenai awal pertemuan mereka. Anne memberi nama buku hariannya Kitty, katanya, kertas memiliki kesabaran yang lebih ketimbang manusia" makanya dia lebih memilih menceritakan segala hal kepada Kitty.

Awal Anne menemukan Kitty saat ulang tahunnya yang ke-12. Sepertinya, Anne benar-benar menyukai Kitty, dia menceritakan segala hal pada Kitty, mulai dari kegiatannya di sekolah hingga sifat-sifat temannya. Rupanya Anne memang seorang pengamat, dan sangat perhatian pada teman-temannya. Anne tidak segan-segan menceritakan keburukan temannya pada Kitty. 

Selain teman-teman Anne juga bercerita mengenai gurunya, dan bagaimana nakalnya dia di sekolah. Anne ternyata anak yang cerewet, dia mengaku suka bercerita di kelas hingga mendapat hukuman, dia juga mengaku mempunyai banyak pengagum. dia begitu narsis. Selain itu, Anne juga mengeluhkan diskriminasi yang menimpa orang Yahudi seperti dirinya kepada Kitty.

Suatu hari, rumah mereka mendapat surat panggilan yang berarti cepat atau lambat  mereka akan dikirim ke kamp konsentrasi. Untuk menghindari itu, mereka bersembunyi di Kantor ayah Anne yang berada di 236 Pringsengracht dan mereka menyebut tempat persembunyian mereka secret Annex. Mereka tinggal di Annex dibantu oleh tuan tuan Kugler dan tuan Kleiman. Anne menyebut mereka penyelamat mereka. Alasan mereka bersembunyi di kantor karena hanya ada sedikit pekereja di sana yaitu tuan Kugler, tuan Kleiman, Miep dan Bep Voskuijl.

Denah Secret Annex

Semenjak di tempat persembunyian, Anne menjadi lebih banyak menulis, dan dia ingin Kitty tahu apa yang tengah dialaminya. Anne menjelaskan secara rinci tempat persembunyian mereka. Ternyata yang tinggal di Annex bukan hanya keluarga Frank, tapi juga keluarga Van Daan. Tuan Van Daan adalah rekan bisnis papa Anne, dia membawa istrinya dan putranya Peter yang berusia 16thn . Saat mereka makan bersama untuk pertama kalinya, Anne merasa bahwa mereka bertujuh adalah keluarga. Mereka bercerita bagaimana keluarga Van Daan membuat gosip dengan hilangnya mereka dari rumah.

Awalnya Anne merasa senang karena di Annex bukan hanya ada keluarga mereka. Tapi lama kelamaan Anne mulai terganggu dengan ocehan atau omelan para orang dewasa. Anne sangat tidak menyukai Nyonya Van Daan karena banyak hal, salah satunya karena dia selalu berkomentar bagaimana seharusnya orang tua Anne mengasuh Anne. Anne sampai menyebut wanita itu bodoh dan tolol kepada Kitty. Anne sangat berterus terang pada Kitty, tapi dia akan mati kalau sampai Kitty dibaca orang lain.

Selain Nyoya Van Daan, Anne juga tidak menyukai Ibunya. Anne merasa ibunya tidak memahaminya begitupun sebaliknya. Anne merasa ibunya lebih menyayangi Margot kakaknya yang lebih pintar dan cerdas. Anne merasa, hanya Ayahnya yang memahaminya. Anne lebih menyukai Ayahnya daripada Ibunya.

Bayangkan di masa pandemi sekarang ini, kita harus tinggal di rumah untuk karantina diri, tinggal dengan orang serumah yang biasanya kita hanya bertemu beberapa jam saja dalam sehari, atau pergi bersenag-senang ketika libur tiba. Ada banyak di berita yang menyebutkan banyak kasus KDRT selama pandemi, dan masalah keluarga lainnya yang karena banyaknya waktu bersama, malah menimbulkan banyak ketidakcocokan.

Begitulah yang dialami Anne, bayangkan, dia tidak keluar Annex selama setahun setengah lebih. Aku saja yang tidak keluar selama satu bulan sudah bosannya setengah mati. Ada banyak ketidakcocokan yang muncul, banyak pertengkaran, tapi Anne bilang para orang dewasa menyebut itu diskusi. Anne bahkan mengaku lupa rasanya bagaimana tertawa, maksudnya tertawa terbahak bahak. Walau keadaan begitu, Anne masih merasa bersyukur. Setidaknya mereka masih bisa hidup dengan tenang. Dibanding dengan orang Yahudi yang lain yang harus tinggal di kamp konsentrasi atau yang lebih parah jika dikirim ke ruang gas beracun.

Kemudian Annex memiliki anggota baru, seorang dokter gigi bernama Dussel. Anne senang berbagi kamar dengan Dussel. Lagi, lama kelamaan Dussel terasa menyebalkan bagi Anne. Dan lagi Dussel sering melakukan hal membahayakan mereka dengan tetap berkirim surat dengan orang luar.

Warga Annex suka mendengarkan radio untuk mengetahui perkembangan politik. Anne menceritakan pada Kitty bagaimana pandangan politik masing-masing dari mereka. Anne sedikit kesal karena suara anak kecil sepertinya tidak akan didengar, padahal Anne juga memiliki pemikiran yang kritis.

Karena hanya di rumah, Anne hanya menceritakan masalah rumah tangga pada Kitty. Bagaimana warga Annex menjaga kewarasan mereka dengan belajar dan membaca, sesekali dia bercerita perkembangan politik seperti menyerahnya Italia, tapi kebanyakan dia bercerita mengenai dirinya sendiri, mengenai kesukaan Anne pada keluarga kerajaan Inggris, dan segala sudut pandangnya pada semua warga Annex. Harap dipahami, bahwa catatan ini adalah dari sudut pandang Anne. Sekilas kita akan menganggap bahwa Anne ada di pihak yang benar, tapi mungkin tidak seperti itu.

Tahun baru 1944 seperti yang banyak dilakukan orang, Anne meriview hidupnya. Anne membaca lagi apa saja yang sudah diceritakannya pada Kitty. Anne menyadari ketika dia mengeluhkan tentang Ibunya ataupun Nyonya Van Daan itu adalah tidak benar. Anne menjelaskan kalau dia menulis catatan dengan kondisi mood yang berbeda-beda. Anne mencoba lebih dewasa di usianya yang ke-14. Tapi Anne tidak ada bercerita mengenai resolusi hidupnya. Yang mungkin menjadi harapannya hanya kapan perang usai dan mereka bisa bebas keluar dari persembunyian.

Maret 1944 adalah tahun dimana Anne paling sering menulis. Dia tengah jatuh cinta dengan salah satu warga Annex: Peter. Di tengah kedepresian dan kecemasan yang menimpanya ketika tinggal di Annex, ada satu yang menjadi sumber semangatnya. Anne sering mengunjungi Peter ke kamarnya untuk bercerita. Awalnya Anne takut itu mengganggu Peter tapi ternyata Peter tidak merasa terganggu sama sekali.

Mereka sering cerita-cerita di kamar Peter, di loteng. Usai makan malam, warga Annex yang lain sering bercanda mengatakan kalau akan ada pernikahan di Annex, tapi Anne tidak menghiraukan itu. Begitu pula dengan Margot yang sepertinya juga menyukai Peter. Anne tidak mau ambil pusing.

Anne dan Peter sering membicarakan orang tua mereka, bagaimana Anne yang cerdas dan periang, dengan Peter yang minderan dan suka menyendiri. Anne selalu merasa senang tiap dia bisa membantu Peter ketika orang tua Peter bertengkar. Memang, ada banyak pertengkaran di Annex, mulai dari masalah makanan, berbeda pendapat, keuangan, dsb.

Ada banyak kekhawatiran dan kecemasan mereka. Untuk makan, mereka mengandalkan kupon dari pasar gelap. Ketika penyuplai kentang mereka tertangkap, maka warga Annex tidak bisa makan kentang. Mereka banyak makan makanan kaleng, keluarga Van Daan sering menyembunyikan atau mengambil jatah makanan lebih banyak karena Nyonya Van Daan yang menyiapkan makanan.

Anne bercerita bagaimana uang cash mereka yang berada di kotak, sudah kelihatan dasarnya, tuan atau nyonya Van Daan yang ingin sekali menukar jass dan bajunya. Tapi sayang, di masa perang, tidak ada yang mau membeli jass.  Sudah sulit begitu, tuan Van Daan malah tidak bisa menghentikan kebiasaan merokoknya. Ditambah beberapa kali mereka kemalingan sehingga merugikan mereka, dan yang lebih parah kemalingan itu menyebabkan polisi curiga dengan keberadaan mereka di balik rak buku 236 Pringsengracht. 

Di bagian tengah buku, aku terkejut ketika melihat beberapa gambar. Gambar-gambar itu membuat segala yang diceritakan Anne menjadi nyata. Mulai dari foto pernikahan orang tua Anne, keluarga Anne, keluarga Van Daan, Dussel, Peter, Secret Annex, tuan Kugler, bahkan pembantu mereka Miep dan Bep.

Pada akhirnya aku tahu, warga Annext tertangkap, dan masing-masing mereka dikirim ke kamp konsentrasi. Margot dan Anne meninggal di kamp/penjara karena epidemi tifus yang menyebar di musim hujan tahun 1944-1945 yang menewaskan ribuan tahanan. Satu-satunya yang warga Annex yang berhasil hidup adalah ayah Anne, Otto Frank. Dia lah yang menyusun catatan Anne ini hingga diterbitkan. Awalnya bagian dia menjelek-jelekkan orang lain tidak ditunjukkan. Tapi apa yang aku baca ini adalah versi lengkapnya. Aku membaca semuanya.

Kertas catatan harian Anne sendiri ditemukan oleh Miep dan Bep selang beberapa hari setelah mereka tertangkap. Setelah perang usai, mereka meyerahkan catatan itu kepada Ayah Anne, Otto Frank. Anne memang ingin catatan hariannya bisa diterbitkan, saat itu dia mendengar radio di London yang menyiarkan pidato Gerrit Balkestein  yang mengatakan ingin mengumpulkan catatan saksi sejarah penderitaan rakyat Belanda semasa penjajahan Jerman. Catatan yang dimaksud termasuk yang berbentuk buku harian. Setelah itu Anne merevisi catatan hariannya dan menulis ulang. Selain buku harian, Anne juga suka menulis cerpen.

Cita-cita Anne adalah ingin menjadi wartawan. Usianya yang 14 tahun, dia sudah mengerti tentang emansipasi pada wanita, suasana politik yang terjadi, juga pengetahuan tentang seks yang mana pada saat itu pembahasan seks masih tabu untuk dibicarakan. Anne memang anak yang cerdas berkat banyak melahap buku. Selain membaca buku, dia juga pandai membaca keadaan sekitar. Pemikirannya yang kritis, dan menurutku wajar jika buku harian Anne ini menjadi banyak hingga bisa aku temukan tergeletak di negeri jauh dari Holland atapun Frankfurt.


Thursday, October 22, 2020

Handphone

Karena baru saja menulis mengenai kenangan kecopetan hp, aku jadi kefikiran ingin membahas hp apa saja yang aku miliki. Tak ada yang bisa dibanggakan dari hp yang telah kumiliki, tapi aku ingin mengingat kenangan yang ku miliki dengannya.

Dulu, sebelum punya hp, sekitar tahun 2000 aku masih menggunakan wartel, sebenarnya bukan aku sih, tapi Mamak. Kalau aku mau menelepon siapa ? anak kecil sepertiku belum butuh hp. Aku ingat tahun ini karena tahun 2000 adalah memasuki zaman melenial. Ingat tahun 2000 aku ingat wartel, ingat tahun 2000 aku ingat panji dan saras 008, ingat tahun 2000 aku ingat snack franch fries 2000, eh kamanaaa.... haha semua gak ada hubungannya, tapi diingatanku saat aku berjalan ke wartel sama mamak aku tengah melamunkan film Panji si manusia Milenium dan melihat lambang wartel yang ada di dekat kantor Golkar itu mengingatkanku pada snack franch fries 2000 yang harganya Rp. 1.000.

Waktu aku SD, aku ingat pernah punya hp sebentar, aku ragu ini masuk hitungan ke hp milikku apa bukan, tapi yang pasti ini hp pertama milik kami. Bukankah barang punya Mamak adalah barangku jugaa. Mamak membeli hp itu dari kak Bujing, kata kak Bujing hp itu nemu di jalan. Mamak tentu saja butuh Hp untuk menghubungi Biyung dan anaknya di jawa walau dia tidak bisa menggunakannya. Dan aku tentu saja ikut senang karena punya mainan baru.

Hp itu selalu disimpan di lemari, karena akan dipakai hanya saat mau menelepon saja. Tapi karena aku merasa ada hak memiliki hp itu, maka tidak mungkin kubiarkan dia hanya diam saja. Aku lupa ini hp tipe apa, menggunakannya pun sebenarnya aku tak bisa. Yang kulakukan dulu hanya sibuk mengotak atiknya, memainkan game yang ada di dalamnya, dan kagum dengan suara yang dikeluarkannya. Bahkan saat ditanya nomor hp nya berapa saja aku tak tahu menau.

Suatu hari, saat tidak ada orang di rumah, aku tengah asyik memainkan hp sendiri, tiba-tiba muncul suara. Aku bingung, perasaan aku gak ada mencet ke musik deh. Karena bingung, aku pencet tombol merah yang berada di kiri atas. Kata mereka kalau bingung, kelik tombol itu saja untuk kembali ke layar utama.

Keesokannya entah ada keributan apa, Hp itu kembali pada kak Bujing. Rupanya kemarin itu ada panggilan masuk dan aku malah menolak panggilannya. Katanya, itu adalah panggilan penting. Yah mana aku tahu wkwk dari situ Mamak kembali menggunakan wartel kalau mau menelepon, dan menggunakan telepon wak Ani Soleh kalau menerima telepon dari Jawa.

Nokia 1600


Handpone resmi pertama milikku adalah nokia 1600. Aku memilikinya sekitar tahun 2008 ketika memasuki tingkat akhir di SMP. Alasanku meminta hp ini adalah supaya aku tetap dapat berkomunikasi dengan teman-temanku walau kami nanti tidak satu sekolah lagi di SMA. Katakanlah, ini hanya hp norak, saat si kembar sudah punya motorolla atau sony ericsson yang sudah punya camera dan bisa menghidupkan MP3, sementara aku hanya punya hp yang bisa menelepon atau sms saja.

Tapi karena waktu luangku dulu sangat banyak, aku suka sekali mengotak atik hp ini, sebenarnya dia banyak kelebihan. Kami sengaja beli hp Nokia karena sudah teruji tahan banting. Sampai sekarang, aku sering sekali tidak sengaja menjatuhkan hp ku. Selain tahan banting, tampilan layar si 1600 ini sudah bukan hitam putih atau kuning lagi, dia berwarna cerah juga terang. suaranya kencang, tampilannya juga sudah memiliki walpaper dan tema, aku suka sekali mengotak atik bagian ini. Selain itu aku juga suka mengotak atik bagian composer, berperan menjadi pencipta lagu. Satu lagi yang aku suka dari Hp ini adalah fitur jam bicaranya. jadi aku bisa mendengar orang berbicara dari hp ini, canggih kann..

Dulu, sangkin gabutnya, karena sering mengotak atik hp, aku pergi ke pengaturan pin yang bahkan fungsinya apa aku tak tahu, lalu terblokirlah hp ku dan aku hanya bisa menghubungi nomor darurat saja. Dari kertas pembungkus kartu SIM aku menghubungi nomor yang bisa dihubungi kalau tidak salah saat itu aku pencet 112, dan bebas pulsa pulak. Tapi ternyata aku malah menelon polisi. Mana bisa polisi memperbaiki kartuku yang terblokir. 

Yah masa-masa itu, akhirnya entah berapa kali aku mengganti nomor Hp ku.  Tapi zaman si 1600 ini, aku telah memulai usaha menjadi si penjual pulsa. Mamak gak mau aku punya barang kalau cuman dipakai main saja. Kebetulan mas Supri juga jual pulsa di Jawa, jadi aku suka dikirimin saldo dari dia. Tapi usaha ini tidak berjalan, memang dasar aku :( banyak yang mengutang, dan lagi kalau pasarnya teman-temanku memang tidak cocok. Mereka sukanya beli pusa 100rb, kalau gak 50rb. Asal tau saja, untung jual pulsa itu sekiat 1.000 atau 2.000 per transaksi, kalau mereka isi 100rb ya untungku cuman 1.000 tapi coba kalau mereka beli pulsa 10rb sebanyak 10x.

Satu kelemahan si 1600 adalah baerainya yang menggembung. Aku gak ngerti kenapa dia bisa begitu, tapi kata mereka itu karena dia terlalu lama di charger. Ada banyak kenanganku dengan si 1600, tahun 2011 saat aku kelas 2 SMA, tahun aku pertama kali pacaran. Sms-sms masa PDKT dan pacaran dengan dia yang pertama ada di situ, masa-masa aku tengah kasmaran dan patah hati karena hubungan kami hanya berjalan selama seminggu hhh

Nokia 6300

Karena aku sudah SMA dan ingin sedikit gaya, aku minta hp yang ada kameranya. Kebetulan bang Iwan, tetangga depan rumah tengah ingin menjual hp nya. jadilah hp kedua ku ini seken atau second yah sesuai lah dengan namanya. Biar aku perkenalkan, ini dia Nokia 6300..

Kenapa Nokia lagi ? seperti yang ku jelaskan sebelumnya, aku suka sekali menjatuhkan Hp, maka aku butuh yang tahan banting. Aku sangat menyukai si 6300 ini, makanya namanya terus menempel di kepalaku. Dia memiliki kamera yang sangat jernih pada masanya, walau berada di belakang. Dan lagi dari dia aku bisa mendengarkan lagu-lagu kesukaanku. Aku biasa bertukar lagu dengan temanku melalui bloototh, berfoto bersama, dan mengunggahnya di fb.

Aku senang dengan si 6300 karena dengan dia aku bisa berselancar di dunia maya, aku bisa menggunakan internet tanpa harus menggunakan komputer. Hal yang tidak bisa dilakukan si 1600. Dari si 6300 aku bertemu dengan pacar kedua ku dan juga cinta pertamaku. Aku banyak membuka fb dari si 6300 sambil dia dicharger, akibatnya baterainya bernasib sama dengan si 1600. Aku sampai-sampai  memakaikannya karet gelang ketika menggunakannya. Entah sudah berapa kali rasanya aku membeli baterainya.

Karena sudah tidak tahan lagi dengan kondisi baterai yang selalu mati, akhirnya aku beralih ke si cross. Biar ku ceritakan kondisinya, saat itu aku sudah tidak di Rantauprapat lagi, aku sudah lulus SMA dan aku tengah ikut hidup dengan tanteku yang berada di Jakarta. Indah sepupuku memiliki hp layar sentuh, aku yang kebetulan ingin hp baru membelilah hp dengan model yang seperti dimiliki indah. Tapi sayangnya Indah memiliki Samsung, dan aku memiliki Cross.

Sesungguhnya jaman Android telah dimulai, bahkan BBM juga, BBM (blackberry) sudah ramai dari aku memiliki si 6300 tapi aku tidak tertarik dengan BBM yang kata mereka harganya mahal. Aku juga kurang suka dengan tampilannya yang memiliki banyak tombol seperti di komputer Sungguh tidak praktis. Mereka menyebutnya Hp Qwerty Saat itu banyak sekali jenis hp yang bermodel Qwerty agar menyerupai blackberry dan tersedia pula versi murahnya, tapi aku benar-benar tidak tertarik.

Cross PD8

Cross ku ini tipe PD8, tampilannya yang touchscreen hanyalah gaya gayaan saja. Sejujurnya dibandingkan si cross aku masih sangat menyukai si seken 6300, tapi mungkin memang sudah waktunya dia pensiun. Kelebihan si PD8 adalah, dia memiliki fitur TV. Banyangkan, televisi berada dalam genggaman. Tv di si cross ini sangat berjasa menemaniku menunggu Mamak di Rumah Sakit Oen Solo selama hampir sebulan. Dengannya aku asik membikin video sambil bernyayi di ayunan RS. Delin yang saat itu berumur 4thn juga sangat menyukai si cross. Dia senang merekam suaranya di si cross.

Lama kelamaan, Touchscreen pada cross mulai tidak responsif, untung masih ada 4 tombol yang bisa digunakan. Tapi itu tidak membantu jika aku ingin berkirim pesan. Hal itu sungguh membuat frustasi ketika touchscreennya sangat susah digunakan. Akhirnya aku mengumpulkan uang, entah uang dari mana aku berhasil memiliki hp baru. Hanya hp murah, tapi sudah Android, orang-orang menyebutnya smartphone. Kisah si evercross, smartphone android pertama milikku bisa kalian nikmati kisahnya di sini. Oh ya alasan aku membeli si evercross ini adalah karena dia sebenernya juga cross hanya berganti nama saja. Dan si cross ku itu sangat bandel, dan aku berharap si evercross ini juga memiliki sifat yang sama. Sayang, kisahku dengannya berakhir dengan aku kehilangan dia.

Mirror selfie dengan lenovo S89


Selfie di toilet kampus sama Dini

Aku kembali menggunakan si Bandel Cross, tapi dia sudah sangat menyebalkan. Karena tau aku kehilangan si evercross, mbk Yani menawarkanku Hp Lenovo miliknya. Aku membeli si Lenovo itu 1jt.

Smartphone keduaku si seken yang kedua. Tapi dia sangat cantik dan canggih. Berwarna putih, kelihatan sangat anggun. Layarnya juga sangat lebar, lebih lebar dari si evercross. Ini dia si Lenovo S890. Aku sebenarnya telah melupakan dia seri berapa, tapi si gugel photo meninggalkan jejaknya. sungguh canggih teknologi.

Kelemahan si Lenovo S890 ini adalah kamera depannya yang masih VGA, sungguh tidak canggih buat ciwi ciwi yang suka selfie. Mbak Yani sendiri yang telah menjual lenovonya padaku, langsung pergi beralih ke Xiaomi Redmi yang kameranya subhanallah sangat canggih. Selain itu walaupun RAM nya cukup besar, tapi karena hp seken, memorinya cepat sekali penuh. Aku jadi sering hapus data dibuatnya.

Tapi penyebab aku harus berpisah dengan si Lenovo adalah, karena connectornya yang telah longgar. Maksudku adalah si lubang untuk menchargernya sudah goyang-goyang. Aku lupa kenapa dia bisa begitu, mungkin karena terjatuh. Akibatnya baterainya susah sekali penuh karena daya tidak bisa masuk, aku sudah beli powerbank, tapi itu gak bisa membuat dia tetap dicharger.

Aku ingat, di ulang tahunku yang ke-23 aku diliputi kesendirian. Aku telah pindah ke Bandung, belum ada satu tahun. Tanpa saudara, tanpa teman, tanpa Hp T.T 

evercross masih ada, tapi sudah tidak digunakan.

hasil korupsiku -_-'

Hal yang sangat membuat sedih, si Lenovo akhirnya ku jual karena biaya memperbaikinya cukup mahal, ditambah aku memang sudah merasa cukup dengannya. Tapi yang membuat aku sedih adalah, aku hanya menjualnya Rp. 100.000 T.T sebenarnya aku gak serius menjualnya, aku cuman mau bisa punya hp lagi. Jadi daripada aku memperbaiki si Lenovo yang cukup memakan waktu, aku memilih bertukar tambah hp. Aku menukar si Lenovo ditambah sejumlah uang dengan Evercross A5P seharga Rp. 550.000. Sungguh keputusan yang BODOH.

Apa kehebatan si Evercross A5p ? dimataku dia tidak memiliki kelebihan apapun. Dia tidak bisa pakai banyak aplikasi, RAM nya sungguh payah! Mending gak usah jadi hp android sekalian kalau sedikit-sedikit memory sudah penuh. Akhirnya aku menjual si Evercross ini ke kantor, dengan alasan aku tidak ingin urusan pribadiku bercampur dengan urusan kantor, karena memang aku cukup sering berhubungan dengan customer.

Dengan kembalinya uangku yang terbuang sia-sia ke counter Hp di Kiaracondong sialan itu! (maaf aku sangat emosi, karena merasa sangat bodoh dan si penjaga counter itu sungguh tidak berperasaan). Setelah ulang tahun ke-23 ku yang penuh kesedihan, setelah gajian, aku langsung membeli Hp baru. Kali ini aku tau dimana tempat yang cocok untuk membeli Hp di Bandung: BEC (Bandung Elektronic Center) di sini sangat lengkap, bahkan untuk service Hp, jual beli hp bekas di sini juga bisa.

mirror selfie dengan Neo, masih sayang-sayanggnya, terus dipakein baju.

Dengan mempertinmbangkan keawetan dan kecanggihan camera, aku memilih membeli Oppo di counter Eraphone. Hp ku kali ini Oppo A33w atau yang lebih akrab dengan sebutan Oppo Neo 7. Aku memilih warna putih karena dia sama cantiknya dengan si Lenovo. Oppo neo 7 Hp termahal yang pernah aku miliki, sebab kini aku telah bekerja. Oppo neo 7 juga adalah yang tercanggih. Menurutku dia yang mampu membuatku melupakan si 6300.

Kisah tragis Neo 7 berada di sini, tapi dari 2016 sejak dia dibeli, sampai sekarang tahun 2020 Neo 7 masih digunakan, dengan berbagai lika-liku kehidupannya. Neo 7 pernah mati suri, akibat mati suri itu, kini dia suka lemot saat membuka aplikasi.

Ketika Neo 7 mati, aku tidak menyangka dia akan hidup lagi. Sebenarnya dia gak mati sih, tapi sedang kritis. Tapi aku kurang sabar menunggu dia sembuh, jadi aku keburu membeli hp baru. Biar aku ceritakan, Neo 7 sedang ikut mandi waktu aku main ke pantai, itu adalah kesalahan fatal yang dia buat. Seketika dia kejang-kejang dan pingsan. Agar dapat sadar kembali, temanku "Ayanceu" menyarankan agar dia direndam di beras atau oat, karena kedua bahan ini dapat menyerap air.

Sebelumnya aku sudah ke klinik service center Oppo, mereka menjelaskan bahwa si Neo 7 susah terselamatkan dan aku harus mengeluarkan sejumlah uang yang lumayan besar. Yang kalau difikir, mending aku membeli Hp baru. Sungguh malang nasib mu Neo, kau bernasib sama dengan si Lenovo. Tapi tenang saja, kali ini aku tidak akan menjual mu.

si penyelamat Neo

Dengan modal membeli Quaker Oat, aku serahkan Neo 7 kepada Ayanceu untuk direndam sekitar 2-3 hari. Jujur, aku tidak berharap banyak, dan lagi rasanya aku gak bisa kalau gak punya hp. Maka tanpa menunggu Neo 7 sadar lagi, Aku pergi ke BEC untuk mencari penggantinya.

Pilihanku jatuh pada si Xiaomi Redmi 4A. Satu-satunya alasanku memilihnya adalah karena bodynya berwarna pink. Selain itu kata mereka dia sudah memiliki garansi resmi TAM, bukan distributor, jadi aku bisa dengan mudah jika ingin mengklaim garansi. Jujur saja saat dulu aku ingin membeli si Neo 7 aku sempat galau ingin membeli xiomi juga, tapi saat itu kata mereka untuk klaim garansi xiomi masih susah, makanya aku lebih memilih Oppo.

Garansi termasuk pertimbangan pertamaku dalam membeli Hp setelah merasa cocok dengan tampilannya. Untuk masalah fitur itu nomor kesekian, paling yang selanjutnya aku cek adalah kapasitas baterai, RAM, dan memory. Karena hal-hal inilah yang kadang suka membikin hp lemot. kalau untuk fitur hp itusih biasanya mirip-mirip aja satu sama lainnya.

Untuk si Redmi kali ini, aku membelinya tanpa perasaan. Tidak ada harapan dia akan berumur panjang. Aku mengeluarkan uang tanpa beban, dan siapa sangka dia berumur panjang. Sementara Neo 7 usai melalui masa kritis ternyata sadar kembali. Aku jadinya memiliki 2 Hp. Karena pada dasarnya aku merasa susah kalau punya 2 barang, si Redmi aku tinggal di Jawa buat Mamak.

Oh ya hampir kelupaan. Ketika aku menggunakan si 6300, Mamak bersama si 1600. Dengan membeli baterai baru, si 1600 masih bisa digunakan. Dia akhirnya bisa menggunakan 1600 setelah tekun belajar bersama Mbak Iin. Mamak awalnya hanya bisa menelepon dan menjawab telepon saja, tapi kemudian dia bisa SMS, itu adalah sebuah kemajuan. Tapi pada akhirnya 1600 tidak bertahan, dan Mamak pakai hp samsung yang mirip dengan 1600.

Berdasarkan pengalamannya dengan 1600 itu, aku berharap dengan aku meninggalkan smartphone di Jawa, Mamak bisa menggunakan smartphone sehingga kami bisa wa an, atau videocallan yang tidak memerlukan pulsa telepon. Tapi yang kadang bikin sebel adalah, di Jawa sinyalnya masih suka putus-putus. Gak akan bisa lancar komunikasi sampai disana bikin tower sinyal lagi.

Tapi, entah sebab apa, Neo7 yang bersamaku tiba-tiba mati, tak bisa digunakan. Redmi kembali lagi padaku, Neo 7 berdebu dipenyimpanan. Suatu hari, Irfan ingin meminjam Neo, ketika dihidupkan, dia menyala. Sudah rezeki Irfan, si Neo aku pinjamkan padanya.

Karena sudah melalui beberapa kematian, Neo menjadi sedikit lemot, Irfan adalah orang yang sabar ketika bersamanya. Tapi ketika Irfan sudah memiliki uang, dia merasa tidak tahan lagi dengan si Neo. Jadi dia beli Hp baru yang bermerek Oppo juga.

Neo kembali kepadaku, kembali disimpan dipenyimpanan. Sehari-hari aku menggunakan Redmi untuk segala hal, dari berselancar di dunia maya, streaming video, main game, semuanya... Redmi sangat baik hati. Dia hampir tidak pernah berbuat masalah. Akulah yang seringkali jahat kepadanya.

Redmi menggunakan Hand Grip Ring Standing.
Badannya banyak ditempelin ini itu untuk menutupi lecet.

Kelebihan Redmi adalah bodynya yang super halus dan ringan. Tapi bersamaku, itu menjadi kekurangannya. Karena terlalu halus dan ringan itu, Redmi sering terlepas dari genggaman ku, dia sering jatuh, terpelanting, terpental semuanya... badannya sudah lecet dimana-mana dan aku tidak sedikitpun berniat membeli bajunya. Tapi ketika Irfan membeli Hp, aku meminta dia untuk membelikan redmi Hand grip ring Standing Hp. Alasanku adalah agar Redmi punya pegangan, dan dia tidak mudah lepas dari genggamanku. Tapi tujuanku sebenarnya adalah, agar aku bisa menonton drakor dengan enak ehhe.

Kini Redmi sudah mulai selalu penuh memory, aku selalu hapus data. Agar Redmi bisa fokus ke tugas utamanya dalam penguunaan hp sehari-hari. Aku menghidupkan Neo lagi untuk bermain game dan menonton. Tapi karena Neo sangat lambat,dan dia tidak bisa konek ke kabel OTG untuk aku mengcopy video drakor dari flasdisc ke Hp, jadi tugas si Neo hanyalah untuk dimainkan game saja.

Jika kita hitung :

  • 1600 menghabiskan waktu denganku 3 tahun (2008-2011)
  • 6300 menghabiskan waktu  dengan ku 2 tahun (2011-2013)
  • Cross PD8 denganku hampir 7 tahun (2013-2020) tapi dia efektif digunakan hanya setahun (2013-2014)
  • Evercross hanya numpang nempel ditangan
  • lenovo 2 tahun (2014-2016)
  • Oppo Neo 7 bersamaku sudah 4 tahun lebih (Mei 2016-2020) 
  • Redmi (Agustus 2017-2020) sudah 3 tahun lebih

Jika diperhatikan, umur-umur Hp ini hanya sekitar 3 tahun saja. Panjang umur Redmi yang sampai sekarang dia masih enak untuk digunakan. kecuali memorynya. Aku gak tau dia bisa bertahan sampai kapan.

Hp punyaku memang tak ada yang branded, kata orang beli lah hp sesuai kegunaan/kebutuhan. Dan aku membeli hp memang bukan untuk menunjang penampilanku. Pekerjaanku tidak menuntut penampilan. Dan memang aku bukanlah pasar barang-barang branded. Belajar dari evercross yang walau hp murah tapi karena aku merasa memiliki barang bagus dan menjadi tinggi hati. lihatlah apa yang terjadi padanya.

Neo yang kusayang-sayang karena Hp termahal yang pernah kubeli, pernah sakit kritis akibat kecelakaan. Mulai dari situ, aku memperlakukan hp ku biasa saja. Tidak ada disayang-sayang, terpelanting berkali-kali pun dia biasa saja. Tapi bisa saja nasib sial memang belum menimpanya. (jangan sampai). Panjang umur Redmi, aku menyukaimu :))



Tampilan Neo saat ini, sudah tidak pakai baju
:)



Monday, October 19, 2020

Kecopetan - Writing Challange (3/30)

Ini kenangan sudah cukup lama, sekitar 6 atau 7 tahun yang lalu. Ini kenangan yang cukup menyedihkan sebenarnya, tapi aku menganggap ini adalah pengalamanku. Semoga aku hanya merasakannya sekali dan itu sudah cukup. Dari Pengalaman ini, aku belajar banyak.

Saat itu aku masih anak kuliah, lagi akan kerja kelompok dengan beberapa teman. Sepertinya sekitar 4 atau 5 orang. Aku lupa detail dengan siapa saja aku saat itu, yang aku ingat ada Arafah, sebut saja Natalin aku lupa namanya huhu si cewek hitam manis orang timur berambut keriting panjang, terus si Felicia (nama ngarang juga) orangnya putih dan sepertinya kristen juga seperti Natalin, lalu ada satu cowok sebut saja namanya Fadil.

Aku mohon maaf sebelumnya dengan orang-orang ini, karena aku melupakan nama mereka hmm

Jadi aku baru saja masuk kuliah lagi karena sebelumnya harus cuti untuk mengurus mamak setelah oprasi lambung. Aku masuk kuliah lagi dengan berada di kelas dengan peringkat bawah (dasar!! seperti anak sekolahan saja bikin peringkat kelas masing2 angkatan). Sedikit sombong, tahun berikutnya aku sudah tidak di kelas bawah lagi, tapi atas. Jadi aku dengan teman-teman ku tadi tidak sampai setengah tahun bersama, maka wajar lah aku lupa dengan nama mereka vis.

Lanjut,

Jadi aku dengan teman kelompokku ini akan pergi ke suatu perusahaan untuk penelitian. Kami naik mikrolet menuju kesana. Aku lupa kami mau kemana, saat itu aku hanya mengikut saja. Seingatku, Arafah dan Natalin duduk di depan ku, di sebelah kiriku Fadil, dia duduk dekat jendela, dan Felicia sepertinya duduk sendiri agak di depan.

Setengah perjalanan kami ada sekumpulan orang naik, tasku aku pangku dan peluk biar aman. Memang kalau naik kendaraan umum aku suka memangku tas ransel ku biar bisa duduk dengan lega juga. Tapi siapa sangaka tiba-tiba aku "diserang". Sekumpulan orang tengah mengerubuniku, mereka membikin keributan dengan alibi mengambil kertas yang jatuh kebawah ku lalu kebawah Fadil. Awalnya sih aku merasa aman aja karena disebelahku cowok. Tapi ternyata itu tidak menjamin. Aku kecolongan...

Satu persatu, orang-orang itu turun dan menghilang. Arafah seperti menyadari sesuatu yang salah saat mereka membuat keributan tadi. Aku yang baru naik mikrolet tidak berfikir apapun. Lalu satu persatu mereka menyadarkanku "lu abis kecopetan Mey" ada ibu-ibu didepanku juga melihat iba kepadaku. Aku seperti tidak mau percaya masih diam saja. "Kejar Mey kejar..." disuruh begitu aku jadi bingung, dan langsung saja memeriksa tas untuk memastikan. dan benar saja, Hp ku telah lenyap. Masih tidak mau percaya, aku terus mencari Hp ku sampai kedalam dalam. "Kejar Mey..." kata itu tertangkap lagi olehku.

Sedikit bingung, aku pun berdiri. Tanpa membayar ongkos mikrolet aku langsung turun. Biar sajalah teman-temanku yang mengurus ongkos itu fikirku. Lagian tak ada satupun dari mereka yang turut membantuku mengejar para copet itu. Hanya menyuruh saja.

Begitu turun, entah darimana aku langsung menangkap salah satu dari mereka, menariknya dan mengintrogasi. Tapi yang kutangkap tak mau berhenti jalan, dia terus berjalan sambil aku memegangi bajunya. "Mana hp ku" ibaku. Bodoh, mana ada maling ngaku. Dia terus berjalan dan aku terus meminta. Kami tengah berada di perenaman jalan, banyak kendaraan menunggu di lampu merah, ada petugas busway juga. cukup ramai, dan aku dengan bodoh meminta dengan minta dikasihani.

Karena memang kami di tengah jalan, copet itu pun lari dari ku dengan melepaskan kemejanya. kebetulan yang aku pegan dari tadi adalah kemejanya. Lalu dia lari dan menghilang di balik tembok. Aku mengejarnya sambil menangis dan berteriak copet dengan lemah hh setelah itu aku lupa kemejanya aku apakan atau aku buang kemana hh

Lalu petugas Busway menghampiriku menanyakan masalah apa. Aku sambil menangis mengatakan bahwa aku baru saja kecopetan. Mereka mengatakan bahwa tidak menyangka aku habis kecopetan dan malah menyangka kami tengah sedang bertengkar.

Aku juga gak tau kenapa aku bisa menangis, tapi menurutku itu adalah hal yang wajar. Mereka mencoba menenangkan ku agar tidak menangis lagi, tapi aku tidak suka ketika salah satu petugas busway itu berkata "memang hp apa yang hilang?" saat itu memang hp ku hanya evercross, smartphone murahan. Tapi itu aku beli dengan keringatku sendiri, dan memang sebenarnya aku tak perlu sedih karena tak ada yang perlu marah atas kehilanganku. satu-satunya yang marah adalah aku.

Balik lagi, memang yang boleh ditangisi hanya Hp mahal ? harus yang bermerek samsung, ipone, dan hp branded lainnya ? Kalau tidak pernah merasakan susahnya membeli barang lalu barang itu hilang rasanya tak perlu protes. Itu bukan cara menenangkan orang yang tengah kehilangan yu knoww hhh.

Karena suasana hatiku tengah kacau, dan maling gak dapat ketangkep, aku memilih pulang aja. Masa bodo dengan tugas dan teman-temanku. Toh saat aku sedih begitu mereka gak tau dimana. Sampai di rumah, aku membuka hp ku. untung aku masih punya hp satu lagi si bandel cross yang menyimpan kartu As ku, si kartu utama. Tapi memang si cross ini bukan android dia gak bisa bbman hh

Begitu aku cek hp, aku lihat ada sms masuk dari Natalin. Dia memaki dan meminta agar hp ini dikembalikan. Salah alamat Natalin... gumamku.

Setelah difikir, satu kesalahanku. Walaupun benar meletakkan tas di pangkuan, tapi aku salah meletakkan barang berharga di kantong terluar. Kendaraan umum di Jakarta masih belum aman cuy, jadi letakkan lah barang berhargamu di kantong terdalam.

Kembali ke beberapa hari sebelum kecopetan. Memang, usia si evercross itu masih baru bisa dibilang aku masih sayang-sayangnya lah makanya aku cukup sedih saat kehilangannya. Karena punya hp baru, aku sepertinya menjadi tinggi hati.

Memang saat itu aku ingin sekali punya smartphone, kalau lagi di busway aku melihat orang-orang tengah memainkan smartphone nya "canggih benerr" dalam hatiku. Apalagi dari drakor yang aku tonton mereka juga pada tengah memakai smartphone canggih, sementara aku hanya punya si bandel cross. Nah ketika aku telah punya smartphone, aku menjadi terus memainkannya, tak terkecuali di dalam busway saat aku berada di perjalanan.

Suatu hari, saat aku diperjalanan pulang di dalam busway, aku tengah asik memainkan hp baruku. tiba-tiba yang duduk di sebelahku berkata kepadaku, intinya, dia minta aku uang berapa gitu.. buat ongkos dia katanya. Sebenernya gak banyak sih dan aku punya (kayanya cuman 2rb deh). Cuman aku takut itu cuman bohongan, dan lagi aku emang pada dasarnya pelit T.T jadi aku mengatakan padanya kalau aku gak punya, ini ada buat ongkos angkot ku nanti. Lalu aku lanjut memainkan hp ku tanpa peduli pada perasaan yang meminta uangku itu.

Mungkiiin..

Peristiwa hilangnya hp ku itu karena doa wanita yang sakit hati padaku itu. Yah gpp sih, mungkin aku memang pantes mendapatkannya. Aku kurang dermawan dan kurang memiliki empati, aku harap pengalaman yang telah kudapat  itu bisa memperbaiki pribadiku. Apa yang sudah hilang apalagi obatnya kalau bukan mengikhlaskan. Toh pada dasarnya semua ini bukan milik kita, semua hanya titipan.

Mungkin aku mudah saja mengatakannya karena peristiwa itu sudah lama, aku memang belum lagi merasakan kehilangan (apalagi seseorang, dan rasanya aku masih belum siap) tapi kini aku tau rasanya bagaimana, dan lihatlah, peristiwa itu terus terkenang. Dan semoga bila kehilanganku berikutnya tiba, aku telah bisa mengatasinya dan mempunyai keiklasan yang lebih besar. amiin.

 

Sunday, October 18, 2020

Yang Membuat Bahagia - Writing Challenge (2/30)

Hal-hal yang membuat aku bahagia adalah tentu saja jika expektasi berbanding lurus dengan realita. Tapi malahan aku jarang berexpektasi karena seringnya apa yang terjadi tak sesuai dengan apa yang diharapkan. Kata orang sih "kebahagian itu kita yang ciptakan sendiri". Aku setuju dengan pernyataan ini. Tapi memang, hanya dalam kondisi-kondisi tertentu.

Misalnya saja, aku lagi tidak ada kegiatan. Dengan bepergian ke luar rumah, ke pantai atau ke pegunungan akan membuat suasana hati lebih baik. Pergi ke Rooftop saat senja datang atau pagi datang juga bisa membuat senang. melihat langit, terkadang menenangkan. Aku suka sekali pagi yang cerah di Bandung. karena aku bisa melihat gunung-gunung dengan jelas. Begitu juga dengan sore hari yang cerah, Jalan-jalan sore adalah salah satu cara untuk menikmati hari.

Yah, pada dasarnya mungkin aku suka bepergian. Dari kecil aku sudah ikut mamak mudik dari Sumatera ke P. Jawa yang menghabiskan waktu 3 hari. kalau PP jadinya 6 hari. Bepergian itu seperti membuat mu meninggalkan semuanya. Seperti kau melarikan diri. Iya, aku memang suka melarikan diri dari masalah, bukannya menyelesaikannya. Beruntung sekarang aku punya pasangan yang senang bicara. Segala masalah harus dibicarakan dan diselesaikan. Bukannya malah diam dan menumpuk masalah.

Dalam kondisi terentu, saat mood sedang tidak baik, kadang rasanya sulit untuk menciptakan kebahagiaan. Tapi ada satu hal yang tidak memperburuk semua itu, yaitu ditemanin. Seberapa lagi menyebalkannya aku, sebenarnya terkadang aku gak mau kalau harus sendiri.

Hal yang lain mungkin mendengarkan musik yang sesuai mood, maskeran, menonton komedi romantis, makan bersama, masak bersama, dan mengerjakan hal-hal bersama. lagi, sepertinya aku memang gak suka sendiri deh. Tapi entah kenapa, terkadang aku suka mengasingkan diri dari lingkungan sosial, menghabiskan waktu dengan diri sendiri. Sepertinya aku harus menghilangkan kebiasaan yang satu ini.

Jika mau melihat lagi, bersyukur adalah salah satu kunci kebahagiaan. Dengan mensyukuri apa saja yang dimiliki saat ini, juga keadaan aman yang didapat, perasaan cukup, membuatku merasa bersyukur dan cukup bahagia. Karena pada dasarnya manusia itu tidak akan pernah merasa cukup. Nikmat iman yang aku dapat juga suatu kebahagiaan buat ku. Rasa nyaman ketika beribadah kadang jarang didapat, kadang fikiran melantur kemana-mana dan gak fokus, maka kadang dalam doa ku aku ingin terus diberi keimanan. Salah satu kebutuhan batinku.

Sebenernya kondisi yang membuat seseorang bahagia itu berbeda-beda, gak bisa dipukul rata. Dan aku juga percaya kehidupan ini itu bagai roda yang berputar, kadang senang kadang sedih, dan aku juga percaya bahwa kesedihan itu berada diantara dua kebahagiaan "karena setelah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan".

so be Happy ^_~

                                            

Orangtuaku (Keluarga) - Writing Challenge (5/30)

ilustrasi keluarga Keluarga biasanya terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Keluargaku bisa dibilang tidak biasa, ada beberapa keluarga yang dija...